Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Kreatif Itu Tidak Natural

9:13 PM 0


Pernah berfikir jadi orang yang paling tidak kreatif? Ga punya ide? Mentok! Saya banget..
Berawal punya niat untuk membuat diy toys untuk Yaqdzan, mengumpulkan ide dari berbagai sumber entah googling, buku-buku ataupun ibu2 yang rajin bikin2 mainan untuk anaknya. Sayapun mulai mempelajarinya satu per satu, terkagum-kagum betapa ajaibnya aktivitas yang diciptakan ibu-ibu untuk anaknya.

Mengatur waktu sedemikian rupa hanya untuk mempelajari project mini, mengumpulkan benda-benda bekas, dan mengoprek benda-benda tersebut yang disulap jadi pembelajaran bagi Yaqdzan (waktu itu usia 24 bulan). Saya teringat akan jaman-jaman sekolah dasar membuat prakarya dari alam sekitar.

Kapan sih waktunya membuat mainan bocah? Biasanya sebelum subuh saya sudah ON mulai beroperasi membuat sesuatu, yang pengerjaannya awal-awal menghabiskan waktu 30-60 menit an hanya untuk sebuah project sederhana misal membuat mobil kardus, membuat media untuk menstimulasi motorik kasar (*lama banget ya :D). Kadang dikerjakan setengah jadi dan nanti dilanjutkan bersama Yaqdzan. Dan yang paling lama itu adalah mencari ide walaupun idenya dari google tetap menghabiskan waktu saya untuk menemukan feeling yang cocok untuk balita, menyesuaikan dengan alat dan bahan yang ada. Biasanya setelah bocah pules saya berselancar mencari ide, jadi besoknya tinggal action!

Lama juga ya? Hanya membuat prakarya sederhana cukup menghabiskan waktu yang lama. Iya! Bagi saya semuanya butuh proses dan butuh waktu untuk belajar hal-hal yang kecil, belajar berimajinasi, belajar meluweskan motorik halus (*nah loh :D), belajar mendongeng, belajar menyajikan semenarik mungkin bagi balita, belajar manajemen waktu yang baik, belajar konsisten, belajar untuk terus semangat. Wah ternyata menjadi kreatif itu bukan dari bakat apalagi gen, semuanya butuh belajar dan belajar.

Bagaimana hasilnya?
Bagi saya yang tidak punya tangan ajaib untuk menggambar maka hasil bukanlah hal yang utama (*alasan :D). Utamanya adalah berkreativitas bersama balita, membentuk bonding yang kuat dengan anak, memiliki quality time bersama anak. Jadi hasil karya saya adalah super ala-ala dan yang penting disukai anak sudah cukup kok hehehe..

Mainannya dicuekin anak?
Udah bikin capek-capek menghabiskan waktu yang lama bahkan sampai begadang, tapi kok mainannya dicuekin bocah!! Haha sayapun pernah mengalaminya, udah biasa kok :D ibu-ibu ga usah kecewa mungkin anak belum tertarik atau lagi bosan. Jadi mainannya disimpan dulu. Oh iya ini tips saya agar aktivitas yang kita sajikan diterima anak, sajikan sevariatif mungkin, kalau hari ini bermain motorik halus, esoknya saya menyajikan motorik kasar, berikutnya bermain sensory play, berikutnya water play, berikutnya bermain playdough. Gunakan alat dan bahan yang berbeda dan full color.

Dan 1 tahun 4 bulan berjalan, hari ini saya tidak harus begadang untuk mencari ide bermain Yaqdzan. Idenya mulai mengalir, ga jelimet dan mumet lagi memikirkan semuanya. Satu hal yang jd pembelajaran saya selama ini, bahwa segalanya butuh proses, nikmati dan suatu saat akan memetik hasilnya insya allah. Maka jadilah pembelajar ulung..

Semangat semuanya!!

Mengajarkan sholat pada anak

8:14 AM 0


Mengenai sholat, Rasulullah memerintahkan agar para ayah mengajarkannya kepada anak-anak sejak mereka berusia tujuah tahun dan memukulnya mereka bila meninggalkannya saat mereka berusia sepuluh tahun.

Rasulullah bersabda:

."مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع واضربوهم عليها وهم أبناء عشر، وفرقوا بينهم في المضاجع"

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat, serta pisahkanlah mereka di tempat tidurnya.”(hadits hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan)

Nabi shallallahualailaiwasalam memerintahkn agar anak-anak meluruskan shafnya dalam shalat. Ibnu Mas'ud berkata, Dahulu Rasulullah mengusap pundak kami sebelum shalatnya  dan bersabda "Luruskanlah shaf kalian dan janganlah kalian berselisih sehingga hati kalian pun berselisih" (HR Muslim).

Nabi senantiasa memperingatkan agar mereka tidak menoleh saat mengerjakan shalat. Untuk itu, beliau bersabda, "Hal ini adalah tindakan pencurian yang dilakukan oleh setan terhadap shalat seorang hamba" (HR Bukhari)

Nabi shallallahualailaiwasalam pun sering membawa anak-anak pergi shalat serta mengusap pipi mereka karena sayang dan kagum kepada mereka.

Jabir bin Samurah telah berkata, " Aku shalat zuhur bersama Rasulullah kemudian beliau menuju ke tempat keluarganya dan akupun ikut keluar. Di luar, beliau disambut oleh anak-anak. Beliaupun mengusap pipi mereka seorang demi seoranv hingga sampailah pada giliranku. Beliau mengusap pipiku dan ternyata kurasakan tangan beliau begitu sejuk dan harum baunya seakan-akan beliau baru dikeluarkan dari kantong yang berisikan parfum" (HR Muslim, kitabul Fadhail).

Beliau juga pernah menempatkan anak-anak dibarisa  sebelah kanan beliau walaupun mereka masih muda. Anas Bin Malik berkata "Pada suatu hari aku pernah masuk ketempat Nabi shallallahualailaiwasalam dan yang ada hanyalah beliau,aku,ibuku, dan Ummu Haram, bibiku. Tiba-tiba Nabi shallallahualailaiwasalam menemui kami lalu bersabda, 'Maukah bila aku mengimami shalat untuk kalian?' Kala itu bukan waktu shalat.

Maka salah seorang berkata "bagaimana mungkin Anas diposisikan di dekat beliau?" Ia berkata, 'Beliau menempatkannya dikanan beliau shalat bersama kami". Kemudian beliau berdoa untuk kami --ahli bait--- dengan semua doa kebaikan di dunia dan akhirat 

Ibuku berkata, "Wahai rasulullah berdoalah untuk pelayan kecilmu itu, maka beliau mendoakanku dengan seluruh kebaikan.Diakhir doa, beliau mengucapkan, 'Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya serta berkahilah ia'.

Oleh Syaikh Jamal Abdurrahman judul buku Islamic Parenting (Pendidikan Anak Metode Nabi)

Rasul Menghargai Mainan Anak

8:43 AM 0


Apa yang akan Anda katakan ketika Anda mengetahui bahwa Al Hasan bin Ali mempunyai anak anjing untuk mainannya, Abu Umair bin Abu Thalhah mempunyai burung pipit untuk mainannnya, dan Aisyah mempunyai boneka perempuan untuk mainannya? Dan banyak lagi sahabat lain yang memiliki mainan.

Realitas seperti ini menunjukkan pengakuan dari Nabi sholallahualaihiwasalam terhadap kebutuhan anak kecil terhadap mainan, hiburan dan pemenuhan kecenderungan (bakat).

Apa pula yang anda akan katakan wahai saudaraku, jika Anda mengetahui bahwa setelah dinikahi Nabi sholallahualaihiwasalam, Aisyah membawa serta bineka mainannya beliau untuk dipergunakannya bermaian? Bahkan Nabi sholallahualaihiwasalam mengajak semua teman-teman aisyah ke dalam rumahnya untuk bermain berma Aisyah.

Ketika jibril tidak mau masuk kedalam rumah Nabi sholallahualaihiwasalam karena ada anak anjing,yang sebelumnya Nabi sholallahualaihiwasalam memang tidak mengetahui keberadaannya, beliau tidak memarahi mencegah, atau melarang Al Husain dari mainannya itu. Begitu pula dengan burung pipit milik Abu Umair Nabi sholallahualaihiwasalam tidak melarangnya bermain dengan burung selama dia menyakiti atau menyiksanya. Apa yang akan Anda katakan saat Anda mengetahui semua sikap Nabi kita yang menghormati keadaan anak?

Tidak diragukan lagi bahwa sikap itu merupakan pengakuan Nabi sholallahualaihiwasalam terhadap mainan anak-anak dan kebutuhannya terhadapa hiburan. Karena anak-anak memang perlu mainan untuk mengembangkan akalnya, meluaskan pengetahuannya, serta menggerakkan indera dan perasaannya.

Menyediakan mainan yang berguna bagi anak merupakan media untuk menghilangkan kejenuhannya, membantunya agar berbakti kepada orang tua, menyenangkan hatinya, serta memenuhi kecenderungan dan kepuasan bermainnya sehingga kelak ia akan tumbuh menjadi anak yang stabil.

Oleh Syaikh Jamal Abdurrahman judul buku Islamic Parenting (Pendidikan Anak Metode Nabi)

Mengajarkan Balita Cinta Al Qur'an

9:15 PM 0

“Didiklah anak-anak kamu pada tiga perkara: mencintai Nabi kamu, mencintai ahli baitnya dan membaca Al-Quran, sebab orang-orang yang memelihara Al-Quran itu berada dalam lindungan singgasana Allah pada hari tidak ada perlindungan selain dari pada perlindungan-Nya beserta para Nabinya dan orang-orang suci,” (HR. Ath-Thabrani)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Belajar diwaktu kecil bagai mengukir diatas batu. Hasilnya paten dan tahan lama.  Begitu pun mengajarkan alqur'an pada anak, kami memilih untuk memperkenalkan sedini mungkin. Tidak sekedar anak bisa membaca Al Qur'an tapi membuat anak2 cinta terhadap Alquran, seberapa besar interaksinya terhadap alquran.


Berikut hal-hal yang kami upayakan didalam keluarga, *kamipun masih terus belajar untuk  konsisten dan semangat.


Membiasakan interaksi dengan alquran (tilawah,menghafal atau interaksi) sejak kehamilan adalah bentuk teladan bagi anak. Lalu memperdengarkan murattal atau talaqi bagi bayi dalam kesehariannya. Begitupun berusaha kami terapkan dalam keseharian yaqdzan.

Alhamdulillah menjelang umur 2 tahun seiring tumbuh kembangnya kami mencoba memperkenalkannya huruf hijaiyyah melalui media bermain. Walaupun masih belajar mengeluarkan kata demi kata yang belum jelas. Teringat sebuah hadist "Rasulullah saw bersabda, Orang yang pandai membaca Al Qur'an bersama malaikat yang mulia, sedangkan yang membaca Alqur'an dan dia terbata-bata lagi susah baginya dua pahala" (saad bin Hisyan r.a),

Inilah motivasi kami mengajarkan balita sedini mungkin, meskipun tajwidnya belum sempurna dan terbata2. Membentuk pola kebaikan dan kebiasaan bersama alquran. Mengeja huruf demi huruf dengan susah akan mendapat pahala membaca yang allah janjikan 1 huruf 10 kebaikan dan pahala perjuangannya mengeja huruf2. Pahala yang diperoleh balita maupun orang tua sebagai pengajar Alquran.

Menginjak usianya yang 2 tahun, makhorojul hurufnya semakin meningkat dan menambah semangat kami untuk mengajarkannya. Yaqdzan dengan tipe audio kinestetik kami menyajikan pembelajaran huruf hijaiyyah melalui art craf atau bermain sensory.

Salah satu aktivitas keseharian saya yaitu mempersiapkan permainan untuk menstimulasi sensori dan motoriknya. Melalui media inilah saya memperkenalkan yaqdzan huruf2 hijaiyyah. Balita yang konsentrasinya berbanding lurus dengan umurnya memang wajar sekali belum bisa berlama2. Seperti tidak melihat tapi menyerap, itulah observasi saya beberapa waktu lalu.

Usia 2 tahun 7 bulan 
Yaqdzan mulai membaca iqra' attaisir dengan metode ustmani karena sesuai penulisan aslinya. Saat membaca iqra' tantangan sendiri bagi kami karena yaqdzan belum bisa duduk manis. Ikhtiyar kami tak berhenti sampai disini. Sya mencoba sajikan dalam bentuk bermain sensory atau art craft dan menempel berupa poster2 di dinding.


Usia 3tahun 1bulan
Alhamdulillah sudah mulai bisa duduk dan baca iqra'.

Barakallahu fiik 